Swedia Tangguh Karena Permainan Kolektivitas
Cap untung rasanya telah mulai bisa dibuang jauh dari Swedia. Kesuksesan maju ke perempat final menunjukkan jika mereka lebih dari Agen Slot Terpercaya sekedar team penggembira di Piala Dunia 2018.
Emil Forsberg jadi penentu kemenangan Swedia atas Swiss di Stadion Saint Petersburg pada Selasa (3/7/2018). Gol satu-satunya di menit ke-66 mengantar Swedia maju ke delapan besar Piala Dunia yang pertamanya kali semenjak 1994.
Sama seperti yang bisa diprediksikan, pelatih Janne Andersson kembali turunkan skema 4-4-2. Formasi starter juga cuma alami satu peralihan dibanding dua pertandingan paling akhir. Perlu dicatat jika hal tersebut mau tak mau dilaksanakan karena Sebastian Larsson jalani hukuman karena penumpukan kartu kuning.
Seperti umumnya juga, Swedia kembali Togel Hari Ini memberikan bola untuk terkuasai oleh musuh. Sejauh pertandingan, mereka cuma mencatat 32% kepenguasaan bola. Mereka menanti, menanti, dan menanti untuk lakukan serbuan balik.
Bagaimana juga, Swedia masih tetap sanggup melepas 12 shooting yang tiga salah satunya ke arah gawang. Swiss sendiri cuma sanggup mencatat empat shooting ke gawang dari keseluruhan 18 eksperimen.
Bila Anda berasa keadaan semacam ini terlampau akrab setiap melihat Swedia bermain, karena itu Anda tidak salah. Style bermain yang sering dianggap remeh ini sudah dipakai semenjak Andersson dipilih tangani scuad pada Juni 2016.
"Umumnya yang saya simpulkan ialah dari hasil gambar yang digambarkan langsung oleh beberapa pemain. Saya bekerja dengan Janne untuk membuat team (pelatih) yang mempunyai semangat kepimpinan," papar Ekvall ke situs sah FIFA.
Kekuatan Ekvall dalam menolong psikis team dianggap secara riil oleh beberapa pemain. Hingga Ola Toivonen pernah minta Ekvall untuk bicara dengan sepatu anyarnya mendekati pertandingan kwalifikasi Piala Dunia menantang Perancis pada Juni 2017.
Anda bisa mengatakan pragmatis, tapi untuk Swedia ini ialah masalah kohesi; bertahan dan bersabar sebagai sebuah team, serang dan mengeksplorasi sela sebagai sebuah team. Ini sebagai argumen mengapa Swedia terlihat lebih bagus saat tidak ada Zlatan Ibrahimovic.
Untuk capai kohesi sama seperti yang diperlihatkan Swedia, kesolidan harus tercipta dari sejak luar lapangan. Ini dimengerti dengan baik sekali oleh Andersson. Karena itu, dia mengontrak seorang psikiater olahraga namanya Daniel Ekvall.
Ekvall bekerja untuk buka sesion share pribadi dan group. Hasil dari dialog, dia selanjutnya membuat perencaan pendekatan psikis untuk laga.